Benar/SalahDari Dokter

Salah Kaprah Minum Antibiotika Saat Flu Menyerang

Salah kaprah paling merisaukan di masyarakat kita, minum antibiotika saat flu menyerang tubuh. Kita tahu flu disebabkan oleh sekelompok virus. Ada banyak jenis virusnya, yang ringan sampai yang ganas.

Di kita ada musim flu, yakni ketika terjadi perubahan iklim panas ke penghujan atau sebaliknya. Namun tidak setiap kita akan flu tergantung dayatahan tubuh. Hanya mereka yang lemah, atau sedang melemah dayatahan tubuhnya yang bila disinggahi virus flu akan langsung jatuh sakit flu. Yang badannya kuat, walau bertubi-tubi flu menyerang, belum tentu menjadi jatuh sakit flu.

Maka upaya mencegah flu lebih penting, karena setelah flu menyerang, bukan saja kita terganggu, dan hari kerja kita hilang, serta bisa saja komplikasi terjadi. Jangan anggap remeh flu. Di negera empat musim, serangan flu, bisa membunuh akibat komplikasi pada paru-paru.

Hindari keluar rumah kalau tidak perlu terlebih ke tempat-tempat umum. Waspada ke rumah sakit puskesmas, bandara, stasiun, terlebih sehabis naik pesawat, rongga hidung kita sudah tercemar virus dan kuman. Bersihkan rongga hidung, dan jangan bawa pakaian dari luar masuk kamar tidur, siapa tahu di pakaian sudah melekat virus flu dan virus lainnya.

Obat untuk membunuh virus flu itu tidak ada. Maka tak perlu antibiotika. Hanya perlu obat pereda demam dan batuk pilek saja. Tubuh sendiri, dengan sistem kekebalannya (immune system) yang akan melawan virusnya. Supaya tubuh kuat melawan, kondisi tubuh harus dikuatkan.

Minum Antibiotika Saat Flu - young man in sleepwear suffering from headache in morning
Minum Antibiotika Saat Flu – Sehat Itu Murah – Photo by Andrea Piacquadio on Pexels.com

Caranya lebih banyak istirahat, menu bergizi, dan membatasi terpapar hawa dingin serta yang serba dingin. Mandi air hangat, badan dibalur balsam atau obat gosok atau minyak kayuputih, pilih makanan dan minuman serba hangat.

Paling cocok sop ayam hangat, wedang jahe, dan cukup protein dari telur untuk membangun kekebalan tubuh (orang Inggris menyebut flu catch cold dan melawannya dengan chicken soup). Dan tidak melakukan aktivitas ke luar rumah.

Satu kekeliruan kebanyakan kita, flu dianggap enteng dan tetap beraktivitas ke luar rumah, sehingga flu bertambah parah, dan terjadi infeksi tumpangan (superbug).

Tanda dan gejala flu itu lendirnya masih encer bening. Dan lendir encer bening akan berubah berwarna kuning atau hijau kalau flu sudah ditumpangi oleh kuman lain akibat tubuh tetatp beraktivitas, sehingga sistem kekebalannya tidak diperkuat.

Pada saat lendir berubah sifat itulah antibiotika baru mulai dibutuhkan. Tanpa antibiotika, infeksi pernapasan atas (ISPA) berpotensi berlanjut menjalar memasuki paru-paru lalu berkembang komplikasi infeksi paru (bronchopneumonia), atau ke telinga tengah (congekan otitis media), atau ke hidungsinusitis, yang memerlukan perawatan rumah sakit.

Bahwa ada dokter sendiri yang meresepkan antibiotika pada kasus flu, bukan karena dokternya tidak tahu, atau kesengajaan, melainkan tidak mau kecolongan pasien flunya telanjur ditumpangi kuman lain superbug itu. Sebab hanya selangkah saja, terlebih pasien di Indonesia, yang kebanyakan lemah, dan masih tetap beraktivitas selama flu, maka untuk jatuh infeksi dan sudah harus memerlukan antibiotika.

Dokter yang bijak tidak langsung memberi antibiotika saat flu belum terinfeksi kuman lain. Namun dokter bisa dengan cara membekali pasien dengan resep antibiotika yang tidak perlu langsung ditebus sebelum flu berubah terinfeksi. Antibiotika baru diminum kalau lendir encer bening sudah berubah kental berwarna. Namun semata karena di kita tidak ada tradisi dokter keluarga (family doctor) yang menyimak pasiennya dari waktu ke waktu, maka dokter langsung menembak pasien flu dengan antibiotika.

Kalau dokter tidak langsung menembak pasien flu dengan antibiotika, lalu pasiennya tambah buruk karena terinfeksi, pasien akan menilai dokternya dungu, mengobati flu saja tidak bisa. Itu alasan kenapa dokter langsung memberi antibiotika.

Sikap pasien flu sekarang hendaknya begini. Pasien sendiri yang paling tahu kapan flu mulai perlu antibiotika. Karena keseringan menggunakan antibiotika yangbtak perlu selain ongkos biaya tinggi dalam berobat, tubuh sudah memikukl efek samping antibiotika yang tidak perlu.

Tercatat pemakaian antibiotika paling buruk di negeri kita, karena selain bisa didapat bebas tanpa resep, pemahaman masyarakat ihwal antibiotika masih lemah. Maka karena pemakaian antibiotika yang tidak tepat itulah kian banyak bertumbuh kuman yang kebal terhadap antibiotika, sehingga perlu diciptakan jenis antibiotika yang terus lebih mutakhir untuk membasmi bibit penyakit yang sudah kebal atau resistance.

Salam sehat,

Dr HANDRAWAN NADESUL

Dr. Handrawan Nadesul

Adalah seorang dokter, penyair, dan penulis di Indonesia. Gemar menulis artikel, opini kesehatan, dan menjadi narasumber untuk media banyuasin bagi masalah-masalah kesehatan dan juga menulis puisi.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button