Dari DokterPenyakit

Penyakit Jantung Koroner: Sumbatan Koroner

Pembuluh koroner tersumbat oleh karat lemak (plaque) oleh sejumlah faktor. Penyakit Jantung Koroner bukan cuma lipid (kolesterol, trigliserida) semata, tapi juga ada faktor hipertensi, diabetik, asam urat tinggi, radikal bebas, kuman, platelet, kekurangan vitamin-mineral, dan faktor yang memperburuk seperti rokok, kegemukan, ada risiko keturunan, serta stres. Jadi bersifat multifaktor, bukan satu faktor saja. Itu maka ada yang bilang kolesterol normal kok bisa kena serangan jantung koroner. Sebaliknya yang merokok kok tidak semua serangan koroner.

Proses pembentukan plaque berlangsung puluhan tahun, sedikitnya bertambah tebal 2%/tahun. Kalau sejak remaja sudah mulai terbentuk plaque, dalam 20 tahun sumbatan plaque sudah mendekati 50%. Itu kenapa sekarang serangan jantung terjadi pada umur lebih muda (sebelum 40 tahun), karena faktor risiko untuk terjadinya serangan koroner sudah dimulai pada usia lebih muda, dan tidak dikontrol.

Kalau orang terserang koroner hari ini akibat hampir separo penampang koronernya tersumbat plaque, prosesnya paling kurang sudah dimulai sejak 20 tahun lalu. Itu berarti kita sebetulnya punya cukup waktu untuk membatalkan serangan itu kalau proses bertambah tebalnya koroner dihentikan dengan meniadakan semua faktor risiko (kolesterol-trigleserida-asam urat; rokok-gemuk-radikal bebas-peradangan pembuluh, platelet, hipertensi-diabetik, kurang gerak, jangan lupa stres).

Penyakit Jantung Koroner : Sumbatan Koroner - Sehat Itu Murah
Penyakit Jantung Koroner : Sumbatan Koroner – Sehat Itu Murah

Tidak semua sumbatan koroner pasti merasakan keluhan nyeri dada, terutama yang diabetik tak terkontrol. Sumbatan koroner lebih dari separo biasanya sudah mulai muncul nyeri dada. Kita menyebutnya angina pectoris. Dalam proses penyumbatan koroner, nyeri dadanya bersifat progresif, makin lama makin panjang durasinya, makin pendek muncul interval nyeri dadanya, yang berarti proses penebalan plaque makin bertambah. Jangan tunggu sampai sudah menyumbat total, maka semua faktor risiko harus dikendalikan.

Serangan koroner terjadi kalau beban jantung bertambah. Keletihan fisik, beban kerja bertambah, olahraga berlebihan, mandi air dingin, berlari melawan angin, buang air besar mengedan, makan kelewat kenyang, angkat barang berat, dan stres tinggi. Yang berisiko terserang koroner, hindrkan semua moment-moment seperti itu.

Koreksi serangan koroner harus meniadakan sumbatan dengan memasang cincin stent pada bagian yang ada plaque-nya. Ada kondisi stent tidak boleh dipasang (sumbatan di pembuluh utama lebih dari satu, di percabangan berkelok, dan beberapa indikasi-kontra lain, sehingga pilihannya harus operasi bypass jantung (CABG).

Oleh karena pembuluh koroner puluhan cabangnya, dan masing-masing cabang menentukan lebih vital tidaknya peran pembuluh itu, selain seberapa persen besarnya sumbatan yang sudah terbentuk, dan pada berapa cabang, maka tidak ada satu pasien yang persis sama kondisi sumbatan koronernya. Itu sebab setiap dokter belum tentu sama analisis koronernya terhadap pasien yang sama.

Maka ada kasus yang dulu diminta dokter pasang stent mengaku menolak dipasang dan sudah 15 tahun tanpa dipasang stent masih sehat-sehat saja. Itulah seni (art) karena dunia kedokteran juga sebuah art. Begitu banyak variasi faktor yang berperan dalam kejadian sumbatan koroner, selain begitu besar variasi kondisi sumbatan koroner yang dokter hadapi dan sikapi.

Buat kita yang penting berusaha meniadakan semua faktor risiko yang kita miliki dengan harapan plaque tidak sampai terbentuk, dan kalau terbentuk tidak terus bertambah tebal. Namun bila sudah berupaya optimal dan kalau masih terbentuk juga plaque, ya di luar kemampuan kita. Silakan menyimak gambar seperti apa percabangan pembuluh koroner, bagaimana koroner tersumbat, dan seperti apa stent terpasang.

Salam sehat,

Dr HANDRAWAN NADESUL

Dr. Handrawan Nadesul

Adalah seorang dokter, penyair, dan penulis di Indonesia. Gemar menulis artikel, opini kesehatan, dan menjadi narasumber untuk media banyuasin bagi masalah-masalah kesehatan dan juga menulis puisi.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button