Dari DokterMakanan Sehat

Makanan Sedap Belum Tentu Sehat

Begitu banyak penyakit yang mendera orang sekarang, faktor menu biang keladinya. Apa yang kita makan ternyata salah. Makanan sedap yang kerap kali kita makan, belum tentu sehat. Maka kalau tidak berharap kita tidak kena penyakit jantung, diabetes, atau kanker sekalipun, tinjau kembali apa yang rutin kita makan sehari-hari.

Bahwa untuk menjadi sehat tidak perlu sekolah dokter atau menjadi ahli Gizi dulu. Cukup menajamkan naluri. Semakin sedap suatu makanan, umumnya semakin kurang menyehatkan. Itu patokannya. Semakin kurang sedap, biasanya semakin menyehatkan.

Ubi rebus lebih menyehatkan dibanding donat, tapi kalah sedap dengan donat. Ubi rebus mengandung unsur yang semua menyehatkan, serat (fiber) tinggi, vitamin banyak, dan ada hormon DHEA yang bikin awet muda. Sedang donat terbuat dari bahan yang semua kurang menyehatkan, terigu, gula putih, mentega, minyak goreng.

Masalahnya lidah kita yang 10 Cm itu selalu mengejar kenikmatan. Kalau direnungkan, nikmat sepanjang lidah, belum tentu nikmat sepanjang hidup. Sekali lagi umur kita banyak ditentukan pula oleh apa yang rutin kita makan.

Menu steak, misalnya, tergolong jenis menu yang tidak menyehatkan, karena porsi protein dan lemaknya mendominasi, mengalahkan porsi karbohidrat dari kentang, dan porsi sayur mayur dari wortel, buncis belaka. Padahal kodrat tubuh kita membutuhkan paling banyak karbo dari nasi, ubi, jagung, sagu, atau gandum.

akanan Sedap - meat with sliced tomatoes on white ceramic plate
Photo by Dima Valkov on Pexels.com

Hanya seperlima untuk porsi protein dan selebihnya paling sedikit porsi lemaknya. Menu steak kebalikan dari kodrat yang diminta tubuh. Itu berarti apa yang kita konsumsi menyalahi kodrat yang tubuh butuhkan.

Sebaliknya dengan nasi rames, bagian dari tradisi menu harian nenek moyang kta, yakni nasi sepiring, ada lauk tempe, tahu, ikan, sayur lodeh atau sayur asem, oseng-oseng, yang kalau ditilik, dominasinya karbohidrat terbanyak, baru protein dari tempe tahu, dan ikan atau telur, dan selebihnya lemak dari minyak goreng dan santan. Ini bersesuaian dengan kodrat kebutuhan tubuh akan makanan.

Perhatikan susunan gigi geligi kita. Taring kita hanya 4 berati hanya seperdelapan dari semua gigi, dan taring untuk mengerat daging, berarti porsi daging kita seperdelapan dari seluruh porsi makan harian. Kalau kita memilih steak, porsi dagingnya sedikitnya 2 ons, melebihi porsi karbohidrat.

Gigi seri kita ada 8 berarti menggigit bebuahan seperempat porsi total harian, dan sisanya gigi geraham untuk sayur mayur. Maka kalau kita bijak mengonsumsi tigaperlima karbo, seperlima protein, dan selebihnya lemak, atau seperdelapan jadi harimau, seperempat jadi kera, dan sisanya jadi kambing, maka tubuh kita akan sehat. Begitu yang diminta kodrat tubuh kita. Penyakit timbul lantaran kita melawan kodrat yang diminta tubuh.

Susunan gigi geligi kita sama persis dengan susunan gigi geligi simpanse. Kita tahu simpanse 95 persen hanya makan buah dan dedaunan, hanya 5 persen makan serangga, dan kadang-kadang daging. Kalau mau lebih sehat mestinya kita patuh pada kodrat yang sudah ditunjukkan oleh susunan gigi geligi kita sendiri.

Kalau ditanya apakah saya makan steak, saya harus bilang ya. Namun hanya sekali-kali, bukan setiap hari, seperti makan tidak sehat lainnya kalau diundang pesta, atau ditraktir makan di resto.

Buku di bawah ini salah satu materi dari trilogi Sehat Itu Murah, Resep Mudah Tetap Sehat, dan buku ini yang mengupas apa yang perlu kita makan dan lakukan menuju hidup yang lebih sehat dari mana saya petik bahan roadshow seminar saya keliling ke sejumlah kota.

Terserah Anda, karena kesehatan sejatinya ada di tangan Anda sendiri.

Salam sehat.

Dr HANDRAWAN NADESUL

Dr. Handrawan Nadesul

Adalah seorang dokter, penyair, dan penulis di Indonesia. Gemar menulis artikel, opini kesehatan, dan menjadi narasumber untuk media banyuasin bagi masalah-masalah kesehatan dan juga menulis puisi.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button